Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

Makalah Sejarah Peradaban Islam: Masa Mughal India


BAB I
PENDAHULUAN
Di kalangan masyarakat Arab, India dikenal sebagai Sind atau Hind. Sebelum kedatangan Islam, India telah mempunyai hubungan perdagangan dengan masyarakat Arab. Pada saat Islam hadir, hubungan perdagangan antara India dan Arab masih diteruskan. Akhirnya India pun perlahan-lahan bersentuhan dengan agama Islam. India yang sebelumnya berperadaban Hindu, sekarang semakin kaya dengan peradaban yang dipengaruhi Islam.
Kerajaan Mughal merupakan salah satu warisan peradaban Islam di India. Keberadaan kerajaan ini telah menjadi motivasi kebangkitan baru bagi peradaban tua di anak benua India yang nyaris tenggelam. Sebagaimana diketahui, India adalah suatu wilayah tempat tumbuh dan berkembangnya peradaban Hindu. Dengan hadirnya Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris tenggelam, kembali muncul.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    STRATEGI KHALIFAH-KHALIFAH MUGHOL MENDAPATKAN KEKHALIFAHAN
Setelah periode Khalji dan Tughluq, kemudian dilanjutkan oleh keluarga Sayyid (1414-1451 M) dan keluarga Lodi (1451-1512 M) kondisi kekuasaan Islam mengalami kemunduran  dan menunjukkan hal yang sangat rumit – sekalipun sebelumnya memang rumit – yakni bangkitnya pikiran lama yang percaya bahwa setiaap kerajaan yang merdeka adalah khalifah di tengah-tengah lingkungannya sendiri.
Dari sini berbagai daerah muncul dengan tokoh-tokoh sentralnya seperti, Fakhruddin  Mubaaq (1336 M) di Bengal, Syamsudin Syah Mirza Swati (1346 M) di Kashmir, Zaffar Khan Muzaffar (1391 M) di Guzarat, Malik Sarvar (1349 M) di Jawanfur, Dhilavar Khan Husein Ghury (1401 M) di Malwa dan seterusnya. Bahkan Ibrahim Lodi (1482-1530 M), pewaris kesultanan budak yang terakhir di Delhi India, mengalami berbagai kesulitan menegakkan kembali kewibawaan politiknya mungkin diakibatkan ketidakmampuannya memerintah.
Atas dasar itu, Alam Khan, keluarga Lodi yang lain mencoba menggulingkannya dengan meminta bantuan Zahirruddin Babur (1482-1530 M) salah satu cucu Timur Lenk dan penguasa Ferghana. Permintaan itu langsung diterima dan bersama pasukannya menyerang Delhi. Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat di Panipat. Ibrahim Lodi beserta ribuan pasukannya terbunuh, dan Zahirruddin Babur langsung mengikrarkan kemenangannya dan kemudian menegakkan pemerintahannya. Dengan demikian, berdirilah kerajaam Mughol dan mengakhiri kesultanan budak-budak Turki.
1.      Pemerintahan Babur
Pada masa ini raja-raja Hindu Rajputh (seperti Rana Sanga) di seluruh India bangkit kembali mencoba melepaskan diri dari kekuasaan Islam. Mereka memberontak antara tahun 1526 dan 1527 M. Tampaknya hal ini memanfaatkan masa-masa transisi politik dari penguasa-penguasa Turki ke penguasa Mongol – selanjutnya disebut Mughal. Babur dapat meredam gejolak politik ini. Kemudian di Afghanistan masih ada golongan yang setia kepada keluarga Lodi sebagai penguasa di sana. Namun Babur dapat menyelesaikannya dengan pertempuran di Gogarth tahun 1529 M.
Dengan demikian, masa pemerintahan Babur ditandai oleh dua persoalan besar, yakni bangkitnya kerajaan-kerajaan Hindu dan munculnya penguasa Muslim yang tidak mengakui pemerintahnya di Afghanistan. Pada tahun 1529 M, Babur meninggal dunia dengan mewariskan wilayah kekuasaannya kepada putra sulungnya Humayun.
2.      Pemerintahan Humayun
Ia memerintah tahun 1530-1539 M dan 1555-1556 M. Periode pemerintahannya banyak diwarnai kerusuhan dan berbagai pemberontakan. Hal tersebut dimungkinkan karena usia pemerintahan yang diwaariskan ayahnya ini masih relatif muda dan belum stabil. Salah satu dinasti dari Afghanistan menginvasinya pada tahun 1539 M ke pusat pemerintahannya di Delhi. Pasukan Humayun hancur dan Negara dalam kondisi tak menentu. Akan tetapi, Humayun dapat meloloskan diri ke Persia dan diterima baik oleh Sultan Safawi. Di sinilah ia mengenal tradisi syiah bahkan sering dibujuk untuk memasukinya. Ia lalu membangun kembali kekuatan militer yang telah hancur. Humayun mencoba kembali merebut kekuasaannya di Delhi.
Pada tahun 1555 M ia menyerang Delhi yang saat itu diperintah Iskandar Sur. Akhirnya, ia memerintah kembali sampai 1556 M. Pada tahu 1556 M, ia meninggal dunia dan digantikan anaknya Jalaludin Muhammad Akbar.
3.      Pemerintahan Jalaludin Muhammad Akbar
Ia adalah sultan yang sangat terkenal di dinasti ini. Sultan Akbar terkenal dengan gagasan-gagasan yang sangat radikal dan liberal baik dalam aspek sosial atau peemikiran keagamaan. Wilayah-wilayah kekuasaannya semakin luas seperti Chundar, Ghond, Chitor, Rantabar, Surat, Behar, Bengal, Kashmir, Orrisa, Dekan, Gawilghard, Narhala, Alamghar dan Asighar.
Di antara kebijakkan politiknya yang paling berani pada awal-awal pemerintahannya adalah menyingkirkan Bairan Syah, penasihat politik syiah yang dipercaya Humayun. Pemerintahan daerah dipegang oleh seorang shipar salar jendral atau kepala komandan dan subdistrik oleh Faujdar (komandan) termasuk jabatan-jabatan sipil yang selalu diberi jenjang kepangkatan bercorak militer.
Dasar-dasar kebijakan sosialnya dengan politik sulakhul (teori universal). Dengan cara ini, semua rakyat dipandang sama, merekaa tidak dibedakan sama sekali oleh ketentuan agama atau lapisan sosial. Di antara reformasi itu adalah:
a.       Menghapuskan Jizyah bagi non-muslim
b.      Memberikan pelayanan pendidikan yang sama bagi masyarakat
c.       Membentuk undang-undang perkawinan baru
d.      Menghapus pajak-pajak pertanian terutama bagi petani-petani miskin
e.       Menghapuskan tradisi perbudakan yang dihasilkan dari tawanan perang dan mengatur khitanan anak-anak.
Aspek penting lainnya dari pembaruannya adalah menciptakan Din Ilahy yang ciri-ciri pentingnya adalah:
a.       Percaya pada keesaan Tuhan
b.      Akbar sebagai khalifah Tuhan dan seorang Padash (Al-Insan Al-Kamil)
c.       Semua pemimpin agama harus tunduk dan sujud pada Akbar
d.      Sebagai manusia padash, ia berpantangan memakan daging (vegetarian)
e.       Menghormati api dan matahari sebagai simbol kehidupann
f.       Hari ahad sebagai hari resmi ibadah
g.      “Assalamu’alaikum” diganti “Allahu Akbar” dan “Alaikum Salam” diganti “Jalla Jalalah”
Inilah periode yang betul-betul “sinkretik” membumi di India. Suatu usaha pemerintahan Islam untuk bisa diterima di kalangan rakyat India. Ia meninggal pada tahun 1605 M setalah menderita sakit yang cukup parah (karena kawan-kawannya dibunuh oleh anaknya Jahanjir mungkin disebabkan adanya rasa cemburu yang terlalu banyak sehingga memengaruhi ayahnya). Kemudian kemajuan-kemajuan tersebut dilanjutkan dan dipertahankan oleh anaknya Jahangir.
4.      Pemerintahan Jahangir
Penguasa keempat adalah Jahangir (1605-1628 M), putra Akbar. Pada masa kepemimpinannya, Jahangir berhasil menundukkan Bengala (1612 M), Mewar (1614 M) Kangra. Usaha-usaha pengamanan wilayah serta penaklukan yang ia lakukan mempertegas kenegarawanan yang diwarisi dari ayahnya yaitu Akbar. Jahangir adalah penganut Ahlusunah wal jamaah, sehingga apa yang ayahnya ciptakan menjadi hilang pengaruhnya. Dari itu muncul berbagai pemberontakan, terutama oleh putranya sendiri, Kurram. Kurram berhasil menangkap ayahnya, tapi berkat permaisuri kerajaan, permusuhan antara ayah dan anak ini bisa dipadamkan.
5.      Pemerintahan Kurram (Syah Jahan)
Setelah Jahangir meninggal, Kurram naik tahta setelah mengalahkan saudaranya, Asaf Khan. Kurram bergelar Syah Jahan (1627-1658 M). Bibit-bibit disintegrasi mulai tumbuh pada pemerintahannya. Hal ini sekaligus menjadi ujian terhadap politik toleransi Mughol. Dalam masa pemerintahannya terjadi dua kali pemberontakan. Tahun pertama masa pemerintahannya, Raja Jujhar Singh Bundela berupaya memberontak dan mengacau keamanan, namun berhasil dipadamkan. Raja Jujhar Singh Bundela kemudian diusir. Pemberontakan yang paling hebat datang dari Afghan Pir Lodi atau Khan Jahan, seorang gubernur dari provinsi bagian Selatan. Pemberontakan ini cukup menyulitkan. Namun pada tahun 1631 M pemberontakan ini pun dipatahkan dan Khan Jahan dihukum mati.
Pada masa ini para pemukim Portugis di Hughli Bengala mulai berulah. Di samping mengganggu keamanan dan toleransi hidup beragama, mereka menculik anak-anak untuk dibaptis masuk agama Kristen. Tahun 1632 M Shah Jahan berhasil mengusir para pemukim Portugis dan mencabut hak-hak istimewa mereka. Shah Jehan meninggal dunia pada 1657 M, setelah menderita sakit keras. Setelah kematiannya terjadi perang saudara. Perang saudara tersebut pada akhirnya menghantar Aurangzeb sebagai pemegang Dinasti Mughal berikutnya.
6.      Pemerintahan Aurangzeb
Aurangzeb (1658-1707 M) menghadapi tugas yang berat. Kedaulatan Mughal sebagai entitas Muslim India nyaris hancur akibat perang saudara. Maka pada masa pemerintahannya dikenal sebagai masa pengembalian kedaulatan umat Islam. Periode ini merupakan masa konsolidasi II Kerajaan Mughal sebagai sebuah kerajaan dan sebagai negeri Islam. Aurangzeb berusaha mengembalikan supremasi agama Islam yang mulai kabur akibat kebijakan politik keagamaan Akbar.
7.      Pemerintahan Pasca Aurangzeb
Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri. Raja-raja sesudah Aurangzeb mengawali kemunduran dan kehancuran Kerajaan Mughal.
Bahadur Syah menggantikan kedudukan Aurangzeb. Lima tahun kemudian terjadi perebutan antara putra-putra Bahadur Syah. Jehandar memenangkan persaingan tersebut dan sekaligus dinobatkan sebagai raja Mughal oleh Jenderal Zulfiqar Khan meskipun Jehandar adalah yang paling lemah di antara putra Bahadur. Penobatan ini ditentang oleh Muhammad Fahrukhsiyar, keponakannya sendiri. Dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1713 M, Fahrukhsiyar keluar sebagai pemenang. Ia menduduki tahta kerajaan sampai pada tahun 1719 M.
Sang raja meninggal terbunuh oleh komplotan Sayyid Husein Ali dan Sayyid Hasan Ali. Keduanya kemudian mengangkat Muhammad Syah (1719-1748 M). Ia kemudian dipecat dan diusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadzir Syah. Tampilnya sejumlah penguasa lemah bersamaan dengan terjadinya perebutan kekuasaan ini selain memperlemah kerajaan juga membuat pemerintahan pusat tidak terurus secara baik. Akibatnya pemerintahan daerah berupaya untuk melepaskan loyalitas dan integritasnya terhadap pemerintahan pusat.
Pada masa pemerintahan Syah Alam (1760-1806 M) Kerajaan Mughal diserang oleh pasukan Afghanistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Durrani. Kekalahan Mughal dari serangan ini, berakibat jatuhnya Mughal ke dalam kekuasaan Afghan. Syah Alam tetap diizinkan berkuasa di Delhi dengan jabatan sebagai sultan. Ketika kerajaan Mughal dalam keadaan lemah, Inggris semakin kuat posisinya, tidak saja dalam perdagangan, tapi juga dalam bentuk politik dengan dibentuknya EIC (The East India Compani). Militer Inggris berhasil menekan Syekh Alam sehingga melepaskan wilayah Kuth, Bengal kepada Inggris.
Akbar II (1806-1837 M) pengganti Syah Alam, memberikan konsesi kepada EIC untuk mengembangkan perdagangan di India sebagaimana yang diinginkan oleh pihak Inggris, dengan syarat bahwa pihak perusahaan Inggris harus menjamin penghidupan raja dan keluarga istana. Kehadiran EIC menjadi awal masuknya pengaruh Inggris di India.
Bahadur Syah (1837-1858 M) pengganti Akbar II menentang isi perjanjian yang telah disepakati oleh ayahnya. Hal ini menimbulkan konflik antara Bahadur Syah dengan pihak Inggris. Bahadur Syah, raja terakhir Kerajaan Mughal diusir dari istana pada tahun (1885 M). Dengan demikian berakhirlah kekuasaan kerajaan Islam Mughal di India.
B.     PEMBANGUNAN DAN PERLUASAN WILAYAH
Kerajaan Mughal tidak mencapai kejayaannya secara mudah. Bagaimanapun, umat Islam di masa ini termasuk golongan minoritas di tengah mayoritas Hindu. Namun Kerajaan Mughal tetap berhasil memperoleh kecemerlangan disebabkan faktor-faktor sebagai berikut;
a.  Kerajaan Mughal memiliki pemerintahan dan raja yang kuat. Politik toleransi dinilai dapat menetralisir perbedaan agama dan suku bangsa, baik antara Islam-Hindu, ataupun India-non India (Persia-Turki).
b.    Hingga Pemerintahan Aurangzeb, rakyat cukup puas dan sejahtera dengan pola kepemimpinan raja dan program kesejahteraannya.
c.      Prajurit Mughal dikenal sebagai prajurit yang tangguh dan memiliki patriotisme yang tinggi. Hal ini diwarisi dari Timur Lenk yang merupakan para petualang yang suka perang dari Persia di Asia Tengah dan cukup dominan dalam ketentaraan.
d.  Sultan yang memerintah sangat mencintai ilmu dan pengetahuan. Para "Bangsawan Mughal mengemban tanggung jawab membangun masjid, jembatan, dan atas berkembangnya kegiataan ilmiah dan sastra".
Ciri khas masa Mughol antara lain:
1.      Berpindahnya Pusat Ilmu
Kegiatan ilmu pada Masa Abbasiyah berpusat di kota-kota Baghdad, Bukhara, Naisabur, Ray, Kordova, Sivilia, dan lain-lainnya. Dalam Masa Mughol berpindah ke kota-kota Kairo, Iskandariyah, Usyuth, Faiyun, Damaskus, Himas, Halab, Huma dan kota-koa lain di Mesir dan Syam.
Terkenal pula beberapa kota lain dengan munculnya para ulama dan pujangga. Maka dalam Masa Mughol ini, tercantumlah di belakang nama para penyair, para ulama, dan pujangga lakab-lakab (gelar-gelar) seperti: Damasyyqy, Halaby, Qahiry, dan sebagainya. Sedangkan  Qahirah menjadi tumpuan tujuan para pujanggadan pencipta bahasa dan sastra Arab serta para ulama yang datang dari timur ataupun dari barat.
2.      Pendukung Sastra
Para khalifah, para Mentri, para Amir, dan para pembesar lainnya, tidak lagi menjadi pencipta dan pendukung sastra, tidak lagi menjadi penggemar ilmu. Mereka hanya mabuk kekuasaan. Mereka tidak lagi memberi kedudukan terhormat kepada para penyair dan para pujangga, karena mereka telah tenggelam dalam kesibukan harta dan membangun tentara.
Kalaupun mereka ada yang mementingkan ilmu, itu hanyalah ilmu kedokteran untuk memelihara kesehatan dan ilmu hitung untuk memilih waktu.
Adapun para sultan turunan Turki di Mesir, dengan sebab kecintaan mereka kepada ilmu dan membantu kegiatan para ulama dan ahli ilmu, maka telah dikarang berbagai kitab tentang sejarah dan sastra yang dipersembahkan kepada mereka.
3.      Ilmu-Ilmu Baru
Dalam masa ini, mulai matang ilmu umran (sosiologi) dan falsafah tarikh (Philosophy of History) dengan munculnya Muqaddimah Ibnu Khaldun, sebagai kitab pertama dalam bidang ini. Juga dalam masa ini, disempurnakan penyusunan ilmu politik, ilmu tata usaha, ilmu peperangan, dan ilmu kritik sejarah.
Di samping lahirnya ilmu-limu baru, membanjir berbagai gelar kebesaran di muka nama para pembesar dan ulama, sementara ibarat karangan menjadi sulit dan uslub bersajak yang hampa semakin banyak.
4.      Membanyaknya Sekolah dan Mausu’at
Dalam Masa Mughol, sekolah-sekolah yang  teratur tumbuh dengan subur, terutama di Mesir dan Syam, dan yang menjadi pusatnya, yaitu Kairo dan Damaskus. Pembangunan sekolah pertama di Syam, yaitu Sultan Nuruddin Zanky, yang kemudian diikuti oleh para raja dan sultan sesudahnya.
Berdirilah berbagai corak sekolah, baik oleh karena perbedaan mazhab, ataupun oleh karena kekhususan ilmu. Contohnya ada sekolah untuk ilmu tafsir dan hadis, ada sekolah fiqh untuk berbagai mazhab, ada sekolah untuk ilmu kesehatan dan falsafah, ada sekolah untuk ilmu pasti, ilmu musik, dan lain-lain.
Dari sekolah-sekolah ini, keluarlah para ulama dan sarjana yang jumlahnya cukup banyak. Demikian pula keadaannya dengan sekolah-sekolah di Himas, Halab, Kudus, dan yang lainnya. Lahirlah sekolah-sekolah di Mesir tidak kurang dari di Syam, bahkan Jami’ah Al-Azhar Kairo menjadi bintangnya segala sekolah, tidak saja karena usianya yang lebih tua, tetapi yang terutama karena mutu ilmu yang tinggi.
Kecuali banyaknya sekolah-sekolah, juga zaman Mughol ini istimewa dengan lahirnya “Mausu’at” dan “Majmu’at” (buku kumpulan berbagai ilmu dan masalah, kira-kira seperti ensiklopedia), sehingga masa ini disebut “Zaman Mausu’at”.
C.    MASA AKHIR MUGHOL INDIA
Ada beberapa faktor internal kerajaan yang menyebabkan kekuasaan Dinasti Mughal ini mundur pada satu setengah abad terakhir, dan membawa kehancuran pada tahun 1858 M adalah:
1.  Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persejataan buatan Mughal itu sendiri.
2. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
3. Dekadensi moral dan gaya hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
4. Semua pewaris kerajaan pada masa terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan, sehingga tidak mampu menangani kemerosotan politik dalam negeri.
Faktor eksternal ditandai dengan banyaknya gerakan pemberontakan sebagai akibat dari lemahnya para pemimpin kerajaan Mughal setelah kepemimpinan Aurangzeb, sehingga banyak wilayah-wilayah kerajaan Mughal yang terlepas dari kekuasaan Mughal. Adapun pemberontakan-pemberontakan tersebut antara lain:
1.   Kaum Hindu yang dipimpin oleh Banda berhasil merebut Sadhura, letaknya di sebelah utara Delhi dan juga kota Sirhind.
2.  Golongan Marata yang dipimpin oleh Baji Rao dan berhasil merebut wilayah Gujarat.
3. Pada masa pemerintahan Syah Alam terjadi beberapa serangan dari pasukan Afghanistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Durrani. Syah Alam mengalami kekalahan dan Mughal jatuh pada kekuasaan Afghanistan.
BAB III
PENUTUP
Kerajaan Mughal tidak mungkin lepas dari sejarah Islam sekaligus sejarah India, karena kerajaan ini merupakan warisan dua peradaban besar tersebut. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa:
a.       Islam telah mewariskan dan memberi pengayaan terhadap khazanah kebudayaan India.
b.      Dengan hadirnya Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris tenggelam, kembali muncul.
c.       Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal telah memberi inspirasi bagi perkembangan peradaban dunia baik politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Misalnya, politik toleransi (sulakhul), sistem pengelolaan pajak, seni arsitektur dan sebagainya.
d.      Kerajaan Mughal telah berhasil membentuk sebuah kosmopolitan Islam-India dan membentuk sebuah kultur Muslim secara eksklusif.
e.       Kemunduran suatu peradaban tidak lepas dari lemahnya kontrol dari elit penguasa, dukungan rakyat dan kuatnya sistem keamanan. Karena itu masuknya kekuatan asing dengan bentuk apapun perlu diwaspadai.
DAFTAR PUSTAKA
Tohir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Hasjmy, A. 1975. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Rabu, 02 Mei 2012

Makalah Sejarah Matematika: Geometri Islam


SEJARAH GEOMETRI ISLAM
A.    Sejarah Singkat Geometri Umum
Sebelum membahas sejarah geometri Islam, kita harus mengetahui dulu sejarah umum dari geometri. Berikut adalah sejarah singkat geometri secara umum.
Geometri secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, adalah cabang dari matematika yang mempelajari hubungan di dalam ruang. Kata Geometri berasal dari Bahasa Yunani (Greek) “geos” yang berarti bumi dan“metron” yang berarti ukuran. Nenek moyang orang Mesir, China, Babylonia, Romawi, dan Yunani menggunakan Geometri untuk keperluan survey, navigasi, astronomi dan sebagainya. Bangsa Yunani telah menyusun secara sistematis fakta-fakta geometri yang telah ditemukan, alasan-alasan logis dan saling keterkaitannya. Hasil karya tersebut ditulis oleh Thales (600 SM), Pythagoras (540 SM), Plato (390 SM), dan Aristoteles (350 SM) dalam bentuk sistematisasi fakta-fakta geometri yang dikumpulkan dalam karya Euclid “Geometry Elements” atau Unsur-unsur Geometri ditulis sekitar 325 SM. Tulisan ini telah digunakan lebih dari 2000 tahun.
B.     Sejarah Geometri Islam
Di era kekhalifahan Islam, para saintis Muslim turut mengembangkan geometri. Bahkan, pada era abad pertengahan, geometri dikuasai para matematikus Muslim. Tak heran jika peradaban Islam turut memberi kontribusi penting bagi pengembangan cabang ilmu matematika modern itu.
Pencapaian peradaban Islam di era keemasan dalam bidang geometri sungguh sangat menakjubkan. Betapa tidak.  Para peneliti di Amerika Serikat (AS) menemukan fakta bahwa di abad ke-15 M, para cendekiawan Muslim telah menggunakan pola geometris mirip kristal. Padahal, pakar matematika modern saja baru menemukan pola desain geometri itu pada abad ke-20 M.
Menurut studi yang diterbitkan dalam Jurnal Science itu, para matematikus Muslim di era keemasan telah memperlihatkan satu terobosan penting dalam bidang matematika dan desain seni pada abad ke-12 M. "Ini amat mengagumkan," tutur Peter Lu, peneliti dari Harvard, AS seperti dikutip  BBC.
Peter Lu mengungkapkan, para matemetikus dan desainer Muslim di era kekhalifahan telah mampu membuat desain dinding, lantai dan langit-langit dengan menggunakan tegel yang mencerminkan pemakaian rumus matematika yang begitu canggih. ''Teori itu baru ditemukan 20 atau 30 tahun lalu," ungkapnya.
Desain dalam seni Islam menggunakan aturan geometri dengan bentuk mirip kristal yang menggunakan bentuk poligon simetris untuk menciptakan satu pola. Hingga saat ini, pandangan umum yang beredar adalah pola rumit berbentuk bintang dan poligon dalam desain seni Islam dicapai dengan menggunakan garis zigzag yang digambar dengan mistar dan kompas.
"Anda bisa melihat perkembangan desain geometris yang canggih ini. Jadi mereka mulai dengan pola desain yang sederhana, dan lama-lama menjadi lebih kompleks," tambah Peter Lu. Penemuan Peter Lu itu membuktikan bahwa peradaban Islam telah mampu mencapai kemajuan yang luar biasa dalam bidang geometri.
Lantas bagaimana matematikus Islam mengembangkan geometri? Pada abad ke-9 M, matematikus Muslim bernama Khawarizmi telah mengembangkan geometri. Awalnya, ilmu geometri dipelajari sang matematikus terkemuka dari  buku berjudul  The Elements   karya Euclid. Ia pun kemudian mengembangkan geometri dan menemukan beragam hal yang baru dalam studi tentang hubungan di dalam ruang.
Al-Khawarizmi menciptakan istilah secans dan tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Dia juga menemukan Sistem Nomor yang sangat penting bagi sistem nomor modern. Dalam Sistem Nomor itu, al-Khawarizmi memuat istilah Cosinus, Sinus dan Tangen untuk menyelesaikan persamaan trigonometri, teorema segitiga sama kaki, perhitungan luas segitiga, segi empat maupun perhitungan luas lingkaran dalam geometri.
Penelitian al-Khawarizmi dianggap sebagai sebuah revolusi besar dalam dunia matematika. Dia menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-penelitian al-Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai objek-objek aljabar.
Penelitian al-Khawarizmi memungkinkan dilakukannya aplikasi sistematis dari aljabar. Sebagai contoh, aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-penelitian ini mendasari terciptanya aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.
Konsep geometri dalam matematika yang diperkenalkan oleh al-Khawarizmi juga sangat penting dalam bidang astronomi. Pasalnya Astronomi merupakan ilmu yang mengkaji tentang bintang-bintang termasuk kedudukan, pergerakan, dan penafsiran yang berkaitan dengan bintang. Guna menghitung kedudukan bintang terhadap bumi membutuhkan perhitungan geometri.
Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Thabit Ibnu Qurra. Matematikus Muslim yang dikenal dengan panggilan Thebit itu juga merupakan salah seorang ilmuwan Muslim terkemuka di bidang Geometri.  Dia melakukan penemuan penting di bidang matematika seperti kalkulus integral, trigonometri, geometri analitik, maupun geometri non-Eucledian.
Salah satu karya Thabit yang fenomenal di bidang geometri adalah bukunya yang berjudul The composition of Ratios (Komposisi rasio). Dalam buku tersebut, Thabit mengaplikasikan antara aritmatika dengan rasio kuantitas geometri. Pemikiran ini, jauh melampaui penemuan ilmuwan Yunani kuno dalam bidang geometri.
Sumbangan Thabit terhadap geometri lainnya yakni, pengembangan geometri terhadap teori Pitagoras di mana dia mengembangkannya dari segi tiga siku-siku khusus ke seluruh segi tiga siku-siku. Thabit juga mempelajari geometri untuk mendukung penemuannya terhadap kurva yang dibutuhkan untuk membentuk bayangan matahari.
Selain itu, ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Ibnu al-Haitham. Dalam bidang geometri, Ibnu al-Haitham mengembangkan analitis geometri yang menghubungkan geometri dengan aljabar. Selain itu, dia juga memperkenalkan konsep gerakan dan transformasi dalam geometri.
Teori Ibnu al-Haitham dalam bidang persegi merupakan teori yang pertama kali dalam geometri eliptik dan geometri hiperbolis. Teori ini dianggap sebagai tanda munculnya geometri non-Euclidean. Karya-karya Ibnu al-Haitham itu mempengaruhi karya para ahli geometri Persia seperti Nasir al-Din al Tusi dan Omar Khayyam.
Namun pengaruh Ibnu al-Haytham tidak hanya terhenti di wilayah Asia saja. Sejumlah ahli geometri Eropa seperti Gersonides, Witelo, Giovanni Girolamo Saccheri, serta John Wallis pun terpengaruh pemikiran al-Haitham. Salah satu karyanya yang terkemuka dalam ilmu geometri adalah Kitab al-Tahlil wa al-Tarkib.
Cendekiawan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau biasa disebut Abu Nasr Mansur. Ia merupakan salah satu ahli geometri yang mendalami spherical geometri (geometri yang berhubungan dengan astronomi). Spherical geometri ini sangat penting untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit di dalam astonomi Islam.
C.    Tokoh-Tokoh Geometri Islam
  • Penerus dari Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (lahir 780 M) melakukan aplikasi terorganisir dari aritmatika untuk aljabar, aljabar untuk aritmatika, baik untuk trigonometri, aljabar untuk teori Euclidean angka, aljabar geometri, dan geometri aljabar. Ini adalah bagaimana penciptaan aljabar polinom, analisis kombinatorial, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori dasar baru angka, dan konstruksi geometri dari persamaan muncul.
  • Abu Abdullah Muhammad bin Isa al-Mahani (820-874 M) lebih dikenal dengan nama al-Mahani. Ia adalah matematikawan dan astronom yang mengamati gerhana bulan dan matahari serta kedudukan planet. Ia juga menulis uraian teori Euclid dan Archimedes dan merumuskan persamaan x3 + c2b = cx2. Selain itu, ia mengumpulkan tabel astronomi dan menulis fenomena atmosfer serta menulis uraian teori Ptolemaeus dan Euclides
    serta merumuskan persamaan tangen yang disebut umbra.
  • Al-Karajii (953-1029 M) yang memiliki nama lengkap Abu Bekr ibn Muhammad ibn Al-Husayn Al-Karaji ini benar-benar membebaskan aljabar & geometri operasi dan menggantikan mereka dengan jenis operasi ilmu hitung.
  • Thabit bin Qurra lahir pada tahun 833 M di Harran Mesopotamia.  Ia berperan penting dalam intergral kalkulus, teorema dalam trigonometri sferis, geometri analitik, dan non-Euclidean geometri. Ia juga menulis sebuah buku pada komposisi rasio. Tsabit memulai sebuah tren yang menyebabkan akhirnya generalisasi dari konsep nomor. Thabit juga membuat generalisasi dari Teorema Pythagoras, yang ia diperluas ke semua segitiga secara umum. Lebih lanjut ia menggeluti pula studi mengenai parabola dan memajukannya. Dalam bukunya, “Quadrature of the Parabola” bahkan digunakan hitungan-hitungan integral untuk mendapatkan luas sebuah bidang atau tembereng (segmen) dari sebuah parabola. Ia meninggal dunia pada tahun 911 M.
·         Ibnu Haytham lahir di Basra pada tahun 965 M. Para ilmuwan Barat menyebut Haitham sebagai Alhazen. Dia mulai pendidikannya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di kota kelahirannya tersebut. Namun tak lama kemudian, dia memutuskan untuk pindah ke Baghdad.
Kecintaannya kepada ilmu dan rasa hausnya akan pengalaman membuatnya pergi ke Mesir. Ketika berada di Mesir, Haytham mendalami ilmu matematika dan falak. Haitham tidak hanya ahli dalam bidang geometri, tetapi juga dalam bidang falak, pengobatan, maupun filsat. Dia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya dan memberikan inspirasi bagi para ilmuwan Barat seperti astronom Jerman Johannes Kepler dalm menciptakan mikroskop maupun teleskop.
·         Abu Nasr merupakan ahli geometri yang lahir di Gilan, Persia. Ia anak dari keluarga penguasa Khawarizmi yang hidup antara tahun 960-1036 M. Dia juga murid dari ahli matematika Abu'l Wafa dan teman baik ahli matematika muslim Al-Biruni. Dia dan Biruni sering melakukan kolaborasi yang penting bagi perkembangan matematika. Ia banyak dikenal untuk penemuannya tentang hukum sinus. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan.
·         Abu Raihan Al-Biruni lahir pada September 973 M di Khawarizm, Turkmenistan. Selama perjalanan hidupnya sampai dengan tahun 1048 M, Al-Biruni banyak menghasilkan karya tulis, tetapi hanya sekitar 200 buku yang dapat diketahui. Salah satunya adalah buku Tafhim li awal Al-Sina’atu Al-Tanjim, yang mengupas tentang ilmu Geometri, Aritmatika dan Astrologi. Al-Biruni wafat dalam usia 75 tahun. Tempat kelahirannya menjadi pilihan untuk menghabiskan sisa hidup dan menghapuskan nafas terakhirnya.
D.    Fungsi Geometri untuk Umat Islam
Umat Islam perlu menentukan waktu yang tepat untuk shalat, Ramadhan, serta hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan bantuan ilmu geometri, kini umat Muslim bisa memperkirakan waktu-waktu tersebut dengan mudah. Selain itu geometri membantu kita menemukan arah kiblat yang tepat untuk keperluan shalat, karena salah satu rukun shalat adalah menghadap kiblat. Dalam membangun masjid pun umat Islam membutuhkan geometri agar segalanya menjadi teratur.
KESIMPULAN
Geometri berasal dari Bahasa Yunani (Greek) “geos” yang berarti bumi dan“metron” yang berarti ukuran dan secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, adalah cabang dari matematika yang mempelajari hubungan di dalam ruang. Pada abad ke-15 M, para cendekiawan Muslim telah menggunakan pola geometris mirip kristal. Pada abad ke-9 M, matematikus Muslim bernama Khawarizmi telah mengembangkan geometri. Awalnya, ilmu geometri dipelajari sang matematikus terkemuka dari  buku berjudul  The Elements   karya Euclid. Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Thabit Ibnu Qurra. Salah satu karya Thabit yang fenomenal di bidang geometri adalah bukunya yang berjudul The composition of Ratios (Komposisi rasio).
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, M. Natsir. 1989. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah. Bandung: Mizan.
http://my.opera.com/Deniesaceh/blog/2011/11/14/ilmuwan-muslim-di-dunia-pada-kurun-waktu-abad-ke-6-s-d-abad-ke-20